Pasang Iklan Gratis

Ini kebobrokan fatal USS Gerald Ford yang selama ini ditutupi Pentagon

  Kapal induk terbesar milik Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford (CVN-78), tidak hanya mengalami insiden kebakaran di ruang cuci pada 12 Maret lalu. Masalah yang lebih serius justru terungkap menyangkut kesiapan operasional kapal perang termahal di dunia ini.

Sebelumnya, pada akhir Februari lalu, kapal induk milik Amerika Serikat itu mendadak menarik diri dari operasi militer melawan Iran dengan dalih adanya kebakaran di kapal. Namun, laporan terkini mengungkap adanya "kelemahan operasional yang lebih dalam" pada kapal perang termahal Amerika tersebut.

Berdasarkan laporan Bloomberg dan Ria Novosti, kapal induk kelas Ford yang tengah dikerahkan dalam Operasi Epic Fury di Laut Merah itu telah tiba di pelabuhan Kreta, Yunani, untuk menjalani perbaikan. Sumber-sumber menyebutkan bahwa permasalahan yang dihadapi kapal ini jauh lebih dalam dari sekadar kebakaran yang melukai dua orang awak.

Presiden AS Donald Trump telah memerintahkan pengerahan kapal induk ke Timur Tengah sebagai bagian dari peningkatan kekuatan militer besar-besaran. Ia tengah mempertimbangkan apakah akan mengambil tindakan militer terhadap Iran, dengan sejumlah pihak menilai serangan ke Iran tinggal menunggu waktu.

Dilansir Times of Israel, kapal induk tersebut kemudian bergerak menuju Haifa setelah singgah untuk mengisi perbekalan di pangkalan angkatan laut AS di pulau Kreta, Yunani. Kapal induk menjadi sandaran bagi jet-jet tempur AS yang hendak menggelar operasi.

Masalah Kesiapan Operasional

Menurut publikasi Bloomberg, masalah utama menyangkut kurangnya data untuk menilai "kesesuaian operasional" kapal. Beberapa sistem kritis dikabarkan masih memiliki kendala signifikan, termasuk keandalan radar dan sistem peluncuran mesin jet (Electromagnetic Aircraft Launch System/EMALS) yang terus bermasalah sejak masa pengujian.

Yang lebih memprihatinkan, pihak komando Angkatan Laut AS telah menyadari berbagai kekurangan ini setidaknya selama tiga tahun terakhir. Namun, hingga kini kekurangan tersebut masih belum juga diperbaiki dengan alasan kurangnya dana.

Riwayat Masalah Teknis

Catatan panjang menunjukkan bahwa Gerald R. Ford, yang mulai dibangun pada 2005 dan resmi ditugaskan pada 2017, memang memiliki sejarah masalah teknis yang kompleks. Laporan GAO pada pertengahan 2020 mengungkapkan bahwa kapal ini masih melaporkan masalah signifikan dengan pengoperasian elevator senjata.

Sementara itu, laporan Departemen Pertahanan AS pada awal 2021 menyatakan bahwa kapal tersebut masih belum siap tempur, terutama karena masalah berkelanjutan pada EMALS. Sistem yang dirancang untuk mencapai 4.166 peluncuran pesawat antara kegagalan misi operasional itu ternyata hanya berhasil mencapai 181 peluncuran.

Insiden Kebakaran Terkini

Pada 12 Maret, kebakaran terjadi di ruang cuci kapal. Insiden yang bermula dari ventilasi pengering di fasilitas laundry itu menyebar dan membutuhkan waktu signifikan untuk dipadamkan. Dua anggota kru dilaporkan mengalami luka-luka.

Armada Kelima Angkatan Laut AS menyatakan bahwa kebakaran tersebut tidak terkait dengan operasi militer terhadap Iran yang saat ini tengah memanas di kawasan Timur Tengah. Lebih dari 600 anggota kru disebutkan kehilangan tempat tidur dan barang-barang pribadi akibat peristiwa ini, meskipun kapal tetap melanjutkan misi serangan udara selama upaya pemadaman berlangsung.

Angkatan Laut Bantah Krisis Pipa

Di tengah berbagai laporan masalah teknis, Angkatan Laut AS membantah laporan media baru-baru ini tentang krisis sistem perpipaan di atas kapal induk tersebut. Pejabat Angkatan Laut menyatakan bahwa sistem Gerald R. Ford beroperasi sesuai parameter yang diharapkan untuk kapal induk kelas Ford dengan lebih dari 4.000 personel di dalamnya.

Selama penugasan ini, sistem pengumpulan, penampungan, dan transfer vakum (VCHT) Gerald R. Ford telah memproses lebih dari enam juta siraman toilet.

"Pimpinan kapal melaporkan bahwa insiden penyumbatan ditangani dengan cepat oleh personel pengendalian kerusakan dan teknik yang terlatih, dengan waktu henti minimal," demikian pernyataan Angkatan Laut AS.

Kapten David Skarosi, komandan kapal induk tersebut, menambahkan: "Di kapal sebesar ini, dengan begitu banyak pelaut, penyumbatan akan terjadi. Yang terpenting adalah seberapa cepat masalah tersebut diselesaikan.

Tim pemeliharaan kami segera merespons, dan sistem terus berfungsi sesuai desain tanpa dampak pada kesiapan operasional atau kemampuan kami untuk memenuhi misi kami. Saya terlibat setiap hari dengan setiap kekhawatiran mengenai kesehatan, kesejahteraan, dan moral awak kapal."

Rencana Perbaikan

Setelah insiden kebakaran, kapal induk yang merupakan kapal utama dari kelasnya ini berlayar menuju Pangkalan Angkatan Laut Kreta di Teluk Souda, Yunani, untuk menjalani perbaikan dan operasi pengisian bahan bakar. Angkatan Laut AS telah mengirimkan sekitar 1.000 kasur dari Pangkalan Angkatan Laut Norfolk, Virginia, yang diminta dari kapal saudara Gerald R. Ford yang belum diresmikan, USS John F. Kennedy.

Penugasan yang telah berlangsung sekitar sembilan bulan ini menjadi salah satu yang terlama untuk sebuah kapal induk. USS Gerald R. Ford kemungkinan akan digantikan oleh USS George H.W. Bush dalam waktu dekat.

Dibangun dengan biaya mencapai USD 13,027 miliar (Rp220,9 triliun), Gerald R. Ford merupakan kapal perang termahal yang pernah dibangun. Kapal ini dinamai menurut presiden Amerika Serikat ke-38, Gerald Ford, dan merupakan kapal induk terbesar di dunia hingga Februari 2026.

Sejarah Penamaan

Nama USS Gerald R. Ford diambil dari nama Presiden Amerika Serikat ke-38, Gerald Rudolph Ford, Jr. Penamaan ini merupakan penghormatan tertinggi bagi sosok yang tidak hanya memimpin negara, tetapi juga memiliki sejarah pengabdian yang panjang di Angkatan Laut Amerika Serikat selama Perang Dunia II.

Tradisi penamaan kapal induk di Amerika Serikat biasanya menggunakan nama mantan presiden atau tokoh yang memiliki kontribusi luar biasa bagi militer. Pengumuman resmi penamaan kapal ini dilakukan oleh Sekretaris Angkatan Laut, Donald Winter, pada 16 Januari 2007. Keputusan tersebut diambil hanya beberapa minggu setelah wafatnya Gerald Ford pada Desember 2006, sebagai bentuk apresiasi atas jasa-jasanya bagi bangsa dan negara.

Gerald Ford memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan dunia maritim. Ia bertugas di kapal induk USS Monterey selama Perang Dunia II, di mana ia menunjukkan keberanian luar biasa dalam pertempuran di Pasifik. Pengalamannya sebagai perwira navigasi dan asisten perwira persenjataan di kapal induk memberikan latar belakang yang sempurna mengapa namanya dipilih untuk memimpin kelas kapal induk generasi terbaru.

Selain jasa militernya, pemilihan nama ini juga mencerminkan karakter kepemimpinan Ford yang dianggap sebagai "penyembuh" bangsa. Ia menjabat sebagai presiden setelah pengunduran diri Richard Nixon di tengah skandal Watergate, sebuah periode penuh ketidakpastian politik. Karakter Ford yang jujur dan berintegritas dianggap mewakili kekuatan dan stabilitas yang ingin diproyeksikan oleh kapal induk terbesar dan tercanggih di dunia ini.

kelas Nimitz yang sudah melegenda. Secara simbolis, penggunaan nama Ford dimaksudkan untuk membawa Angkatan Laut AS menuju abad ke-21 dengan teknologi peluncuran pesawat elektromagnetik dan reaktor nuklir yang lebih efisien. Keluarga Ford, termasuk putrinya Susan Ford Bales yang menjadi sponsor kapal, terlibat aktif dalam prosesi konstruksi hingga peresmiannya.

Meski kini kapal tersebut dirundung berbagai masalah teknis dan biaya fantastis hingga Rp220 triliun, nama Gerald R. Ford tetap melekat sebagai identitas supremasi laut Amerika. Kapal ini menjadi monumen bergerak yang mengenang warisan presiden yang pernah berkata bahwa integritas adalah segalanya, sebuah nilai yang kini diuji melalui kesiapan operasional kapal yang menyandang namanya tersebut.


0 Response to "Ini kebobrokan fatal USS Gerald Ford yang selama ini ditutupi Pentagon"

Posting Komentar