Nasib tragis Adi jadi tentara Rusia, korban drone dan uangnya diambil agen
Adi, warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi tentara Rusia, menjelaskan, kondisinya kini sudah dua bulan dirawat di rumah sakit (RS). Dia menjadi salah satu sasaran korban drone Ukraina kala sedang bertugas.
Dia sempat mengirimkan foto tangannya diperban lantaran menjadi sasaran drone Ukraina hingga salah satu jarinya terputus. Adi sudah tiga bulan berada di Rusia. Dia berangkat ke negeri Beruang Merah, dijanjikan pekerjaan sipil, bukan sebagai personel militer. Keadaan ekonomi yang memaksanya pergi dari Jakarta ke Moskow untuk mengubah nasib demi bisa menghidupi anak dan istri.
Kepada Republika, Adi sempat mengirimkan foto seorang perempuan yang menjadi agen rekruter di Jakarta. Oleh orang tersebut, ia dijanjikan pekerjaan sipil di Rusia. Faktanya, ia dibohongi orang itu karena malah dijadikan tentara setiba di Moskow, Rusia.
"Ini orang yang menawarkan pekerjaan ini Mas dia kerja sama, sama mafia di Rusia mereka tuh jahat, mereka janji ngasih kerjaan security, office boy, jaga sekolah, jaga rumah sakit, dan itu di kota, dan kenyataan nya kami jadi tentara bayaran," kata Adi kepada Republika di Jakarta
Menurut dia, sang agen rekruter mengancamnya ketika ada niatan pulang ke Indonesia. "Setelah tahu kami pengen pulang kami malah harus disuruh ganti biaya ongkos dua kali lipat, dan setelah menjalanin (pekerjaan jadi tentara), mereka juga mencuri uang kita, sekarang mereka kabur," ucap Adi menjelaskan kelakuan agen rekruter Rusia.
Adi sebenarnya tidak lulus tes kesehatan ketika sudah sampai di Rusia. Padahal, dokter yang memeriksanya memutuskan ia tidak layak untuk berperang, akibat penyakit yang diderita. Sayangnya, sang agen yang tetap memaksanya meneken kontrak hingga harus dikirim ke garis depan melawan militer Ukraina.
"Di Moskow saya sudah ditolak oleh militer Moskow, tapi mereka menolak memulangkan saya, saya malah dikirim ke Kota Ryzan. Saya inget sekali pihak di Moskow udah berupaya memasukan saya ke milliter, tapi pihak medis menolak karena ada beberapa faktor kesehatan saya yang gak bisa lanjut, tapi pihak agen tetep memaksa memasukan saya," kata Adi.
Mendapati sang agen rekruter tidak mau rugi, Ad tetap dipaksa menjadi tentara dan dipisahkan dengan dua WNI lain, yang berangkat bersama dari Jakarta. Bahkan, ia sempat diancam untuk mengganti biaya keberangkatan dan penginapan jika tetap memaksa pulang ke Indonesia. "(Ganti biaya) hotel pas kedatangan kami di Rusia, mereka bawa kita ke penginapan sekitar tiga sampai lima hari kita di sana," ujar Adi.
Sudah dua bulan ini, Adi lost contact dengan kedua temannya tersebut. Yang membuatnya sakit hati, uang kontrak menjadi tentara Rusia sebesar 1 juta rubel sekitar Rp 213 juta, malah dibawa kabur jaringan agen Rusia. Dia pun hanya bisa pasrah dengan keadaan sekarang dan berharap ada perhatian dari pemerintah RI. "Dua orang lagi itu Dwi dan Yuda, sudah hilang, tak ada kabarnya," kata Adi.
Siapa Adi? Dia adalah salah satu WNI yang wajahnya sempat dipajang oleh Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina. Menurut Adi, agen Rusia itulah yang menjual data WNI, termasuk dirinya ke Ukraina. "Mereka yang menjual data kami ke Ukraina, mereka juga mencuri uang kami (kontrak)," kata Adi kepada Republika.
0 Response to "Nasib tragis Adi jadi tentara Rusia, korban drone dan uangnya diambil agen"
Posting Komentar